Lompat ke isi utama

Berita

Jendela Bawaslu di Kampung Prai Ijing

pojok pengawasan

Anggota Bawaslu Kabupaten Sumba Barat, Sri Demu Alemina Br. Bangun, SE bersama Kasubbag Pengawasan, Imelda Voni Rowa, S.AP mengunjungi Pojok Pengawasan di Kampung Prai Ijing (27/01/2026).

Waikabubak, Bawaslu Kabupaten Sumba Barat - langkah kecil Bawaslu Kabupaten Sumba Barat untuk mendekatkan diri dengan masyarakat bukan hanya untuk menanamkan pengetahuan mengenai bagaimana mengawal demokrasi, namun juga untuk membangun kesadaran pengawasan partisipatif.

Anggota Bawaslu Kabupaten Sumba Barat, Sri Demu Alemina Br. Bangun, SE bersama Kasubbag Pengawasan, Imelda Voni Rowa, S.AP mengunjungi Pojok Pengawasan di Kampung Prai Ijing sekaligus sebagai Kampung Anti Politik Uang di Kabupaten Sumba Barat.

Letak Kampung Praijing yang strategis dan tingginya pengunjung. Momentum yang baik ini, Bawaslu Kabupaten Sumba Barat mengambil langkah preventif dengan mendirikan Pojok Pengawasan di perpustakaan Kampung Praijing yang diisi dengan buku-buku tentang pengawasan Pemilu dan Pemilihan untuk diakses oleh masyarakat setempat maupun pengujung.


Masyarakat yang sangat terbuka, sejalan dengan harapan masyarakat yang selalu menjaga netralitas dalam Pemilu/Pemilihan untuk keberlangsungan pariwisata di Kampung Prai Ijing. Menjadi ruang edukasi politik bagi Bawaslu Kabupaten Sumba Barat dengan menempatkan Pojok Pengawasan sebagai jendela pengawasan di Kampung Prai Ijing.

Ketua Sie Pengembangan Atraksi/Daya Tarik Wisata, Mardiana W. Bela Mata, S.E menyampaikan kehadiran Pojok Pengawasan di Kampung Prai Ijing terdapat respon dari wisatawan dalam negeri maupun luar negeri, kehadiran pojok pengawasan di perpustakaan praijing menarik perhatian wisatawan dan memberikan apresiasi. Salah satu dari wisatawan manca negara menyampaikan ”kalian hebat ya disini, bisa melakukan sosialisasi”.

Harapan dari Pojok Pengawasan, Bawaslu Kabupaten Sumba Barat mendapatkan feedback terhadap pelaksanaan Pemilu dan Pemilihan di Kabupaten Sumba Barat, mengingat Kabupaten Sumba Barat masih sangat kental dengan budaya/adat istiadat yang berpotensi akan terjadinya polarisasi di masyarakat terkait dengan dukungan politik, politisasi SARA, penggunaan Hoax, dan fitnah untuk menyerang calon maupun pasangan calon tertentu.