Lompat ke isi utama

Berita

Bangun Komitmen, Didik Bersama Generasi Untuk Melek Politik

kkk

Waikabubak, Bawaslu Sumba Barat - Generasi muda, khususnya siswa-siswi SMA yang masuk dalam kategori pemilih pemula, kini menjadi perhatian serius dalam ekosistem demokrasi Indonesia. Kelompok ini dinilai sangat rentan menjadi sasaran empuk penyebaran berita bohong (hoaks), praktik politik uang (money politics), hingga ancaman sikap apatis atau golongan putih (golput).

Merespons tantangan tersebut, Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Sumba Barat, Pdt. Papi B. Ndjurumana, S.Th dan Anggota, Sri Demu Alemina Br. Bangun, SE bersama Kepala Sekretariat, Benyamin U. H. K. Yewang, S.TP., M.SI dan Kasubbag Pengawasan, Imelda Voni Rowa, S.AP mengambil langkah proaktif dengan menggandeng SMA Negeri 1 Waikabubak. Kerja sama resmi ini dikukuhkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) program "Bawaslu Mengajar" pada Senin (18/05/2026).

Program "Bawaslu Mengajar" ini dirancang sebagai wadah edukasi politik yang sehat bagi para pelajar. Melalui program ini, pihak Bawaslu akan turun langsung ke sekolah untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya hak suara, cara menyaring informasi demi menangkal hoaks, serta membangun kesadaran untuk menolak segala bentuk politik uang.

Pihak Bawaslu Sumba Barat menegaskan bahwa membentuk generasi muda yang melek politik bukan sekadar agenda musiman menjelang pemilu, melainkan sebuah investasi jangka panjang bagi masa depan demokrasi Indonesia.

"Siswa-siswi adalah pemilik masa depan bangsa. Jika sejak bangku sekolah mereka sudah dibekali dengan literasi politik yang kuat, mereka tidak akan mudah dimanipulasi dan justru bisa menjadi agen pengawas partisipatif di lingkungan mereka," ujar Ketua Bawaslu Sumba Barat dalam kegiatan tersebut.

Sementara itu, pihak SMA Negeri 1 Waikabubak menyambut baik kolaborasi ini. Kehadiran Bawaslu di sekolah diharapkan mampu membuka cakrawala berpikir para siswa agar tidak lagi memandang politik sebagai sesuatu yang tabu atau negatif, melainkan sebagai alat untuk menentukan arah bangsa terkhususnya di Kabupaten Sumba Barat.

Sri Demu juga menegaskan sekaligus dalam menutup kegiatan penandatanganan MoU, bahwa dengan adanya sinergi ini, diharapkan angka partisipasi pemilih pemula di Kabupaten Sumba Barat dapat meningkat, sekaligus melahirkan generasi baru yang kritis, cerdas, dan bertanggung jawab dalam menggunakan hak konstitusionalnya.

,kl